Cerita Dibalik Pembangunan Patung Pancoran Yang Perlu Kamu Tahu
![]() |
| Foto: www.ariesaksono.wordpress.com |
Jakarta kotaku indah dan damai, disanalah aku dilahirkan... Pasti kamu pernah dengar kan potongan lirik lagu Gang Kelinci ini? Ya, lagu yang mengisahkan tentang kota Jakarta yang indah namun terasa sesak dengan banyaknya orang yang tinggal di ibu kota Indonesia. Salah satu keindahan di kota ini adalah patung-patung yang memiliki nilai seni dan nilai sejarah.
Patung Dirgantara atau yang lebih populer dengan nama Patung Pancoran adalah salah satunya. Nama dirgantara di pilih karena patung ini adalah simbol untuk menampilkan keperkasaan Bangsa Indonesia di bidang dirgantara. Banyak masyarakat yang menyebutnya Patung Pancoran karena berlokasi di kompleks perkantoran Wisma Aldiron Dirgantara kawasan Pancoran Jakarta Selatan. Ketinggian patung ini mencapai 11 meter dengan berat 11 ton. Ukuran kaki patung ini yaitu 27 meter. Bisa di bayangkan kalau kita melihat langsung dari dekat, besar sekali bukan? Terbuat dari perunggu, patung ini menghabiskan dana 12 juta rupiah pada masanya.
Tahukah kamu, dibalik pembangunan patung ini ternyata ada kisah perjuangan yang menyedihkan sampai mengharukan? Yuk, kita cari tahu.
Bung Karno, adalah orang yang memiliki gagasan untuk membuat patung Dirgantara. Beliau menunjuk Edhi Sunarso yang merupakan pematung kesayangan Bung Karno. Pada awalnya Edhi merasa ragu alias ga' pede untuk mengerjakan proyek ini karena sebelumya ia belum pernah membuat patung dari perunggu. Mengetahui hal tersebut, Bung Karno mencoba meyakinkan Edhi dan berkata "Hey Ed, kamu punya rasa bangga berbangsa dan bernegara tidak? Apa perlu saya menyuruh seniman luar untuk mengerjakan monumen dalam negeri sendiri? Saya tidak mau kau coba-coba, kau harus sanggup." Pertanyaan itu akhirnya di jawab dengan tuntasnya pembuatan replika patung dari gypsum yang dibuat hanya dalam satu minggu oleh Edhi dan pematung-pematung dari Yogyakarta.
Sayangnya projek yang dirancang awal tahun 1964 ini sempat terhenti ketika terjadinya peristiwa G30S/PKI tahun 1965, dimana kepemimpinan Bung Karno sedang berada di ujung tanduk akibat tidak diterimanya pertanggungjawaban Bung Karno oleh MPRS mengenai pemberontakan PKI. Pada akhirnya Bung Karno dilengserkan dan Soeharto diorbitkan. Peristiwa tersebut tak membuat Bung Karno melepas tanggung jawab untuk melanjutkan pembangunan patung Dirgantara. Tiang penyangga patung sudah berdiri, tapi proyek ini terancam gagal karena tidak adanya perhatian dari pemerintahan transisi. Edhi pun merasa kalau ia sudah tak sanggup lagi melanjutkannya karena ia sudah dililit hutang untuk pekerjaan ini.
Di tengah melemahnya Bung Karno akibat sakit ginjal yang diderita, ia masih bersikukuh melanjutkan proyek Patung Dirgantara. Uang sebesar 1,7 juta rupiah pun ia berikan kepada Edhi untuk melanjutkan proyek ini. Belakangan, Edhi baru mengetahui kalau uang tersebut adalah uang hasil penjualan mobil pribadi Bung karno. Meskipun uang itu tidak menutup semua kebutuhan, tetapi pembangunan bisa dilanjutkan.
Pada tanggal 21 Juni 1970, tepat di hari Minggu pagi ketika Edhi sedang berada di puncak tugu Dirgantara, ia mendengar suara sirine dan melihat iring-iringan mobil jenazah melintas di jalan. Ia pun diberi kabar bahwa itu adalah iring-iringan jenazah Bung Karno. Dengan keadaan lemas dan masih tak percaya, ia segera turun dan menyusul ke Blitar untuk memberi penghormatan terakhir kepada Bung Karno.
Pada akhirnya patung Dirgantara pun berhasil dituntaskan. Meskipun meninggalkan hutang negara dan tidak pernah diresmikan oleh pemerintahan Soeharto, patung ini masih kokoh berdiri hingga sekarang dengan ekpresi semangat menggelora yang mencerminkan semagat Bangsa Indonesia.

